Pilkada Melalui DPRD Tidak Menjadi Solusi
Daftar isi:
Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Benny K Harman, menegaskan penolakannya terhadap usulan pemilihan kepala daerah (pilkada) yang dilakukan melalui DPRD. Dia berpendapat bahwa pemilihan secara langsung adalah bagian vital dalam demokrasi yang tidak seharusnya diabaikan, meski ada berbagai masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pemilu.
Benny menyatakan bahwa kebangkitan wacana penggantian metode ini bukanlah solusi atas berbagai kendala yang ada, seperti tingginya biaya politik dan praktik politik uang. Menurutnya, masalah yang muncul tidak bisa diatasi hanya dengan mengubah teknologi pemilihan.
Pemilu Langsung Dapat Memperkuat Demokrasi di Indonesia
Pemilu langsung adalah cara yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih pemimpin yang mereka anggap layak. Proses ini tidak hanya meningkatkan partisipasi warga, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab di kalangan calon pemimpin.
Sebaliknya, pilkada yang dilaksanakan melalui DPRD dapat mengurangi keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Ketika rakyat tidak memiliki suara yang cukup besar, maka keberadaan mereka sering kali terlupakan dalam pengambilan kebijakan publik.
Benny menegaskan bahwa akar masalah dalam pelaksanaan pilkada harusnya dicari dalam regulasi yang ada. Dengan perbaikan yang tepat, aturan yang jelas dan sanksi bagi pelanggar diharapkan dapat mengurangi praktik curang yang sering terjadi.
Pentingnya Perbaikan Regulasi dalam Pelaksanaan Pilkada
Dalam pengamatannya, Benny menganggap regulasi yang lemah sebagai faktor utama dari berbagai masalah dalam pelaksanaan pilkada. Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk melakukan revisi terhadap Undang-Undang Pilkada.
Menurutnya, UU Pilkada yang baru harus memiliki norma yang lebih jelas, sehingga semua pihak dapat mematuhi ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, penyimpangan dalam proses pemilihan dapat diminimalkan, dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pemilu dapat dipulihkan.
Dia menyoroti betapa pentingnya memberikan sanksi tegas bagi mereka yang melanggar aturan. Dengan demikian, diharapkan akan ada efek jera bagi para pelanggar dan mendorong pelaksanaan pilkada yang lebih bersih.
Pentingnya Dukungan Anggaran untuk Pelaksanaan Pilkada
Salah satu isu besar yang sering muncul dalam diskusi tentang pilkada adalah masalah biaya. Benny berpendapat bahwa negara harus mengambil peran lebih dengan menyediakan anggaran yang memadai untuk pelaksanaan pemilihan.
Dia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengurangi kualitas demokrasi. Pemilihan yang efektif dan transparan membutuhkan pendanaan yang tepat agar tidak terjebak dalam praktik politik uang yang merugikan.
Benny juga menilai bahwa negara harus melihat pemilihan sebagai investasi dalam mengembangkan kualitas kepemimpinan di masa depan. Jika tujuan utama dari demokrasi adalah untuk melahirkan pemimpin yang berkualitas, maka anggaran harus dan perlu diupayakan untuk memfasilitasi hal tersebut.
Wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali muncul setelah Golkar menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas). Rapat tersebut menghasilkan rekomendasi yang mendorong pilkada tidak langsung, yang diusulkan oleh beberapa fraksi lainnya.
Mayoritas fraksi, termasuk Golkar dan Gerindra, mendukung usulan tersebut, namun PDIP dan Demokrat tetap menolak keras. Sementara itu, PKS menawarkan variasi di mana pilkada tidak langsung hanya berlaku untuk kabupaten. Perdebatan ini menunjukkan bahwa masih ada ketidakpastian yang perlu diselesaikan dalam konteks demokrasi di Indonesia.
Mempertahankan pemilihan langsung adalah langkah yang krusial untuk memastikan bahwa suara rakyat tetap terdengar. Tanpa keterlibatan masyarakat secara langsung, bukan hanya kualitas demokrasi yang terancam, tetapi juga masa depan kepemimpinan di Indonesia.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now








