Kritik Influencer Terhadap Candi Borobudur yang Tak Ramah Lansia Ibu Hamil dan Disabilitas
Daftar isi:
Pada awal tahun 2026, sebuah video menghebohkan publik beredar luas di media sosial. Dalam video itu, seorang influencer yang dikenal dengan akun Instagram @jalanbarengarief merekam momen menyentuh saat mendapati seorang perempuan lansia sedang berjuang untuk berjalan keluar dari pelataran Candi Borobudur.
Video tersebut menggambarkan bagaimana lansia tersebut berjalan dengan tertatih-tatih, sementara seorang pria yang mendampinginya tampak dengan jelas meminta bantuan kepada petugas. Namun, tanggapan yang mereka terima sangat mengecewakan, dan situasi ini mengundang banyak pertanyaan dari netizen.
Dalam rekaman tersebut, Arief, sang influencer, terlihat berusaha membantu dengan menghubungi pihak Taman Wisata Candi Borobudur. Namun, jawaban yang diterima tidak menjanjikan, seolah mengabaikan urgensi situasi yang terjadi.
Sementara itu, Arief terus bernegosiasi dengan petugas keamanan yang bertugas di lokasi. Di tengah upaya tersebut, dia dihadapkan pada peraturan yang ketat tentang larangan penggunaan kendaraan bermotor di area tersebut, yang semakin mempersulit upaya membantu lansia tersebut.
Mengurai Permasalahan dalam Pelayanan Wisata di Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah salah satu situs warisan dunia yang menarik ribuan pengunjung setiap harinya. Namun, situasi ini menunjukkan adanya ketidakcukupan dalam pelayanan yang tersedia bagi pengunjung, terutama bagi mereka yang memerlukan bantuan. Dalam konteks ini, tampak jelas bahwa sistem bantuan bagi para pengunjung, khususnya lansia, masih memerlukan perbaikan.
Jawaban petugas yang tidak memadai menciptakan realitas bahwa saat situasi darurat, prosedur yang ada tidak selalu mampu memberikan solusi yang cepat. Hal ini menjadi sebuah pembelajaran bahwa pengelolaan tempat wisata harus lebih peka terhadap kebutuhan pengunjung yang berbeda-beda.
Keberadaan protokol darurat dan jalur akses untuk pengunjung berkebutuhan khusus sangat penting untuk dipertimbangkan. Kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kondisi fisik pengunjung harus mulai diterapkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Salah satu solusi yang bisa diajukan adalah penambahan layanan shuttle yang lebih sesuai dengan aksesibilitas untuk pengunjung. Dengan adanya layanan tersebut, diharapkan para pengunjung, terutama lansia, dapat lebih mudah menikmati keindahan candi tanpa terhalang oleh masalah fisik.
Peran Media Sosial dalam Mendorong Kesadaran Publik
Media sosial tidak hanya menjadi platform untuk berbagi kebahagiaan, tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk mendesak perubahan. Viral-nya video yang diunggah Arief menunjukkan bagaimana kekuatan media sosial dapat mendorong tindakan cepat dari pihak pengelola tempat wisata.
Dalam situasi yang dihadapi ibu lansia tersebut, eksposur di media sosial mampu menyalakan kesadaran publik mengenai pentingnya peningkatan kualitas layanan. Seiring dengan banyaknya perhatian dari masyarakat, akan ada harapan untuk perbaikan dalam pelayanan dan pengelolaan lokasi wisata.
Netizen tentu bisa memberikan dukungan mereka dengan meminta evaluasi sistem pelayanan yang ada. Dengan membuat suara mereka terdengar, masyarakat dapat mendorong para pengelola untuk menanggapi masalah-masalah yang terabaikan dalam layanan publik.
Dengan demikian, media sosial dapat menjadi platform yang menghubungkan antara pengunjung dan pihak pengelola, menciptakan dialog yang lebih konstruktif untuk memperbaiki aspek-aspek pelayanan yang kurang memadai. Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek aksesibilitas, tetapi juga dapat meningkatkan keseluruhan pengalaman pengunjung di Candi Borobudur.
Pentingnya Pendidikan Publik tentang Aksesibilitas
Pendidikan publik tentang aksesibilitas di lokasi wisata perlu mendapatkan perhatian serius. Masyarakat perlu mendalami bagaimana pentingnya memberikan dukungan kepada pengunjung yang memiliki keterbatasan fisik. Melalui kesadaran ini, kita semua bisa bermain peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
Program-program penyuluhan mengenai hak dan kebutuhan pengunjung berkebutuhan khusus juga patut dipertimbangkan. Mengedukasi publik tentang perlunya memahami situasi orang lain dapat membangun empati dan kepedulian yang lebih besar dalam komunitas.
Pihak pengelola juga perlu berkolaborasi dengan berbagai organisasi non-pemerintah dan lembaga terkait untuk mengembangkan program aksesibilitas yang lebih baik. Implementasi program tersebut akan membuat Candi Borobudur tidak hanya nyaman bagi pengunjung, tetapi juga memberikan pengalaman yang memuaskan bagi semua pengunjung.
Secara keseluruhan, komitmen untuk memberikan layanan yang lebih baik harus berasal dari semua pihak, baik pengelola, pemerintah, maupun masyarakat. Ketika setiap elemen berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, maka Candi Borobudur dapat menjadi simbol dari keindahan dan inklusivitas.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







